SOP Subarashi — Suplemen Vitalitas Kolagen Laut Resmi Jepang | Distributor Resmi AFC Indonesia
Doc. AFC-01 — Lini Subarashi

SOP Subarashi

Diformulasikan sebagai serbuk minuman harian dengan basis kolagen laut dan nutrisi pilihan, SOP Subarashi disusun untuk mendukung stamina dan vitalitas tubuh secara berkelanjutan. Diproduksi 100% di Jepang oleh AFC-HD AMS Life Science Co., Ltd.

Stamina & Vitalitas Harian Made in Japan BPOM RI ML 830531010482 Bentuk Serbuk Terdaftar di Buku MIMS International Award Monde Selection
SOP Subarashi

Kandungan Utama

Marine placenta
Marine Placenta
Peptida ovarium salmon, komponen aktif inti formula
Sardines peptide
Sardines Peptide
Peptida ikan sarden, bahan khas racikan Jepang
Fruit flow
Fruit Flow
Peptida nabati dari ekstrak buah terpilih
Glutathione
Glutathione
Antioksidan pendukung dalam formulasi harian
Nucleic Acid Elastin Hyaluronic Acid Chondroitin Amino Acid Fish Collagen
Verified
Harga Distribusi Resmi
Rp 1.950.000
per box · 28 sachet @ 3.5 g
Ajukan Pemesanan SOP Subarashi
8 Manfaat Klinis Berpaten
  • Mendukung regenerasi sel tubuh
  • Memperbaiki sirkulasi pembuluh darah
  • Membantu menjaga tekanan darah tetap sehat
  • Mencegah penggumpalan darah (trombosis)
  • Mendukung peremajaan sel
  • Memberikan efek anti-penuaan
  • Mendukung fungsi kesehatan hati
  • Membantu menurunkan kadar asam urat berlebih

Seputar SOP Subarashi

Ya. AFC Jepang memegang lisensi resmi yang diberikan langsung oleh Eto Tadashi selaku pemegang paten Salmon Ovary Peptide, dan berstatus sebagai satu-satunya distributor resmi untuk kawasan Asia Pasifik.

Tidak. SOP Subarashi merupakan nutrisi 100% alami, bukan obat-obatan — sehingga tidak dikenal dosis khusus maupun risiko overdosis. Konsumen cukup mengikuti takaran penyajian pada label kemasan.

Karena AFC Jepang menetapkan PT. AFC Indonesia sebagai distributor tunggal sekaligus jaringan pemasaran (network marketing) AFC pertama di dunia — produk ini memang dirancang khusus untuk kebutuhan pasar Indonesia.

Salmon Ovary Peptide telah dikonsumsi masyarakat Jepang selama lebih dari 200 tahun, tanpa adanya catatan medis mengenai efek samping yang membahayakan.